Ada tiga komponen teknologi utama dalam SIPT yaitu (a).Teknologi budidaya ternak, (b) teknologi budidaya padi, dan (c) teknologi pengolahan jerami dan kompos. Agar ketiga komponen teknologi tersebut dapat diintegrasikan secara sinergis, maka pengembangan SIPT ini dilaksanakan dengan pendekatan kelembagaan. Yang dimaksud dengan pendekatan kelembagaan disini adalah dimana kepemilikan lahan sawah dan ternak secara individu tetap ada, namun kegiatan individu peternak merupakan satu kesatuan dari kegiatan kelompok, seperti pengumpulan jerami, pengadaan sarana produksi dan lain sebagainya. Sedangkan pokok tujuan dari sistem SIPT ini adalah bagaimana petani mengoptimalkan usahanya untuk menghasilkan kompos yang mampu meningkatkan efesiensi usaha taninya.
Sistem Integrasi Padi Ternak yang telah dikembangkan hingga saat ini terbentur beberapa masalah antara lain: Masih rendahnya peternak sapi di sentra produksi dalam pemanfaatan teknologi pengolahan limbah jerami dan kotoran ternak dalam rangka efisiensi. Serta masih banyak keterbatasan-keterbatasan seperti pelayanan IB(Inseminasi Buatan), kapasitas kandang sapi, dan tempat fermentasi jerami yang masih sangat sederhana. Rendahnya kegiatan kelompok ternak, sehingga peternak dalam mengusahakan sapi khususnya ternak sapi penggemukan masih bersifat individu Program dilaksanakan tidak fokus pada propinsi Pusat produsen, tetapi menyebar bahkan didaerah yang tidak dapat membantu suplai ternak sapi potong khusus ke DKI dan Jawa Barat. 2) Program SIPT bersifat umum artinya tidak membedakan lokasi spesifik. 3) Sasaran program adalah petani atau peternak rakyat atau petani tradisional. 4) Penerapan Program SIPT tidak metodologis, tidak jelas mengapa program diseluruh propinsi, mengapa lokasi disana, dan tidak ada 10 perkembangan yang jelas. Dibandingkan dengan kebutuhan tambahan ternak sapi sebanyak 400.000 ekor sampai 1 juta ekor sapi pertahun, maka apa yang dapat disumbangkan pada program ini masih sangat jauh harapan yang diinginkan. Seperti sudah diketahui bahwa kegiatan SIPT dalam usaha pengembangkan ternak sapi saling keterpaduan dengan tanaman padi, dalam konsep tersebut nampaknya sudah mengedepankan kesimbangan pemanfaatan limbah dari masing-masing komoditi, agar lebih termanfaat secara optimal. Tetapi kenyataan di lapang belum sepenuhnya lancar, terutama dalam proses pengolahan jerami sebagai pakan ternak utama.
Hal ini disebabkan oleh keadaan cuaca, seperti pertumbuhan ternak sapi pada musim penghujan (saat itu jumlah pakan cukup) juga belum maksimal pemanfaatannya. Artinya walaupun limbah pertanian pada musim panen 3 cukup banyak, tetapi upaya penyimpanan limbah pertanian belum melembaga. Sehingga daya tahan tubuh ternak tidak mampu mengimbangi kelangkaan pakan pada musim kemarau yang cukup panjang. Pada hal pakan hijauan merupakan pakan utama ternak ruminansia.