KONSUMSI PRODUK TERNAK

Krisis ekonomi (1997-2000) memberikan dampak penurunan daya beli masyarakat sehingga terjadi penurunan trend konsumsi daging dan telur. Pada periode setelah krisis (2001-2003) laju pertumbuhan konsumsi daging dan telur meningkat kembali bahkan melampaui kondisi sebelum krisis. Demikian juga dengan konsumsi absolut. Tahun 1999 merupakan saat konsumsi daging menurun mencapai titik terendah dan tahun 1998 yang merupakan saat konsumsi telur menurun, namun kemudian meningkat kembali hingga tahun 2005. Secara umum pemulihan konsumsi produk ternak relatif cepat, karena didukung oleh industri perunggasan nasional yang responsive terhadap perubahan-perubahan. Jika dirinci menurut jenis daging, penduduk Indonesia lebih banyak mengkonsumsi daging ayam broiler dan sapi. Kebutuhan konsumsi daging sekitar 65 persen dipenuhi dari produk impor dan 25 persen di antaranya berasal dari impor sapi bakalan. Dalam kondisi nilai tukar rupiah yang stabil, kecenderungan impor semakin meningkat. Peningkatan impor tersebut dapat disebabkan oleh permintaan daging berkualitas (prime cut) yang meningkat dan harga daging kelas standar yang relatif murah dibanding produk domestik. Fenomena konsumsi pasca krisis mengindikasikan bahwa trend permintaan terhadap produk peternakan ke depan semakin meningkat. Peningkatan trend konsumsi tersebut merupakan suatu tantangan dan peluang bagi industri produk peternakan nasional, khususnya untuk produk daging dan telur ayam ras serta daging sapi. Sementara itu, melalui upaya peningkatan kualitas sesuai yang diinginkan konsumen, Indonesia berpeluang melakukan ekspor daging kambing domba dan babi. Pengadaan susu untuk dikonsumsi sebagian besar masih dipasok dari produk impor. Namun pada kondisi krisis ekonomi harga susu domestik jauh lebih murah dari harga susu impor. Walaupun tanpa kewajiban menyerap produksi susu segar domestik, peningkatan daya saing produk susu domestic saat itu menyebabkan industri pengolahan  susu nasional menyerap sebagian besar pasokan domestik. Fenomena ini memberikan informasi bahwa jika harga produk susu domestik memiliki daya saing, secara kualitas sudah mampu dihandalkan sebagai bahan baku industri susu nasional. Bahkan pada masa krisis hingga sekarang Indonesia sudah melakukan ekspor produk susu olahan. Sebelum krisis ekonomi, penyediaan susu per tahun untuk konsumsi sebesar 968,8 ton meningkat menjadi 1043,3 pada masa krisis, dan meningkat lagi setelah masa krisis menjadi 1377,8. Hal ini memperlihatkan bahwa laju peningkatan penyediaan susu sudah sulit ditingkatkan, karena produktivitas peternakan sapi perah menurun. Namun demikian, masalah permintaan domestik yang menurun dapat diatasi dengan melakukan ekspor produk susu olahan. Oleh karena itu yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana meningkatkan produktivitas usaha sapi perah domestik.

DAFTAR PUSTAKA

Yusdja,Y., N. Ilham. 2007.Suatu Gagasan Tentang Peternakan Masa Depan Dan Strategi Mewujudkannya. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor.

MANAJEMEN PERKANDANGAN PADA PERUSAHAAN AYAM PEMBIBIT BROILER

Perkandangan merupakan suatu aspek yang harus dilengkapi peternakan yang meliputi kandang, tempat isolasi ayam yang terkena penyakit dan peralatan kandang guna mendukung suatu peternakan. Perkandangan adalah suatu aspek yang didalamnya terdapat kandang maupun alat-alat perlengkapan kandang yang bersifat mendukung suatu aktivitas peternakan.
Kandang merupakan bagian inti yang harus dimiliki peternakan, karena menunjang keberlangsungan peternakan seperti melindungi ternak dari pengaruh buruk iklim seperti hujan, panas matahari atau gangguan dari predator. Untuk memenuhi kebutuhan dan kenyamanan ternak agar menghasilkan produktivitas yang baik, kandang harus memperhatikan lokasi, konstruksi dan tipe kandang. Penyesuain kandang dengan lokasi, konstruksi dan tipe akan membuat ternak menjadi nyaman sehingga dapat memaksimalkan produktivitasnya.

 TUJUAN DAN MANFAAT
Praktek Kerja Lapangan bertujuan untuk menambah informasi, pengetahuan, dan pengalaman, serta wawasan mengenai manajemen perkandangan secara umum di PT. Patriot Intan Abadi Bogor, Jawa Barat. Manfaat yang dapat diperoleh dari praktek kerja lapangan adalah dapat mengetahui, memperoleh tambahan wawasan, pengetahuan, ketrampilan, pengalaman dalam bidang manajemen pemeliharaan ayam broiler dan manajemen perkandangan sebagai bekal pengalaman kerja nantinya, serta membandingkan teori dengan praktek yang dikembangkan di PT. Patriot Intan Abadi Bogor, Jawa Barat.

 
TINJAUAN PUSTAKA
Pembibitan Ayam Broiler
Ayam broiler merupakan ayam tipe berat pedaging yang lebih muda dan  berukuran lebih kecil. Ayam broiler ditujukan untuk menghasilkan daging dan menguntungkan secara ekonomis. Ayam broiler tumbuh sangat cepat sehingga dapat dipanen pada umur 6-7 minggu. Sifat pertumbuhan yang sangat cepat ini dicerminkan dari tingkah laku makannya yang sangat lahap (Pratama, 2008). Ayam broiler merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi terutama dalam memproduksi daging. Ayam  pedaging (broiler) memiliki banyak strain. Strain merupakan istilah untuk jenis ayam yang telah mengalami penyilangan dari bermacam-macam bangsa sehingga tercipta jenis ayam baru dengan nilai ekonomi produksi tinggi dan bersifat turun temurun (Santoso dan Sudaryani, 2011). Ayam broiler merupakan ayam pedaging yang mengalami pertumbuhan pesat pada umur 1-5 minggu. Pada umumnya di Indonasia ayam broiler sudah dipasarkan pada umur 5-6 minggu dengan berat 1.3-1.6 kg, walaupun laju pertumbuhannya belum maksimum karena ayam broiler dengan berat kurang dari 1.3 kg mengalami kesulitan dalam  pemasarannya (Rahmadani, 2009).

Manajemen Perkandangan dan Tenaga Kerja
Perkandangan adalah suatu aspek yang didalamnya terdapat kandang maupun alat-alat perlengkapan kandang yang bersifat mendukung suatu aktivitas peternakan. Perkandangan merupakan suatu aspek yang harus dilengkapi peternakan yang meliputi kandang, tempat isolasi ayam yang terkena penyakit dan peralatan kandang guna mendukung suatu peternakan (Zainuddin, 2014). Kandang merupakan bagian inti yang harus dimiliki peternakan, karena menunjang keberlangsungan peternakan seperti melindungi ternak dari pengaruh buruk iklim seperti hujan, panas matahari atau gangguan dari predator. Untuk memenuhi kebutuhan dan kenyamanan ternak agar menghasilkan produktivitas yang baik, kandang harus memperhatikan lokasi, konstruksi dan tipe kandang (Fadilah, 2013). Penyesuain kandang dengan lokasi, konstruksi dan tipe akan membuat ternak menjadi nyaman sehingga dapat memaksimalkan produktivitasnya. Terdapat dua fungsi kandang bagi ternak yaitu sebagai fungsi primer dan fungsi sekunder. a. Fungsi Primer. Secara makro, kandang untuk tempat tinggal dan berlindung dari cuaca, dan gangguan predator. Secara mikro, kandang berfungsi menyediakan lingkungan yang nyaman agar ternak terhindar dari cekaman (stress). b. Fungsi sekunder, kandang berfungsi tempat bekerja bagi peternak untuk melakukan kegiatan harian dalam melakukan pemeliharaan ternak (Murni, 2009). Pembangunan kandang harus memperhatikan tiga faktor penting, yaitu: faktor biologis ternak, faktor teknis / engineering, dan faktor ekonomis (Suprijatna, 2008).
Kontruksi Kandang
Kandang merupakan unsur penting dalam menentukan keberhasilan suatu usaha peternakan ayam karena kandang merupakan tempat hidup ayam sejak usia awal sampai berproduksi. Kandang harus memenuhi semua persyaratan yang dapat menjamin kesehatan serta pertumbuhan yang baik bagi ayam yang dipelihara. Faktor konstruksi yang dituntut untuk kandang ayam yang baik meliputi ventilasi, dinding kandang, lantai, atap kandang dan bahan bangunan kandang (Sholikin, 2011). Kontruksi kandang dapat dilihat dari atap kandangnya, atap kandang hendaknya tidak terbuat dari seng atau bahan lain yang dapat menimbulkan panas dalam ruangan,lebih praktis jika atap terbuat dari genting dan tidak dianjurkan pembuatan kandang terlalu pendek karena dapat menyebabkan panas dalam ruangan (Malik, 2001).

Lokasi Kandang
Lokasi kandang harus perlu mendapat perhatian serius karena secara tidak langsung akan mempengaruhi hasil  produksi. Beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian antara lain aspek lingkungan, struktur dan kondisi tanah (Suprijatna, 2008). Lokasi kandang yang baik adalah sumber air bersih mudah diperoleh, topografi, tekstur tanah, sarana transportasi mudah terjangkau, sirkulasi udara lancer, jarak dari lingkungan perumahan penduduk tidak terlalu dekat (Murni, 2009).

Peralatan Kandang
Peralatan kandang yang digunakan untuk usaha peternakan ayam pedaging adalah tempat pakan, tempat minum, induk buatan atau  brooder, tirai dan  penyekat kandang (Nuroso, 2012). Peralatan kandang yang dibutuhkan dalam  pemeliharaan ayam broiler antara lain instalansi air minum (sumur, pompa air, saluran air, drum penampungan, dan tempat minum otomatis), instalansi tempat  pakan, instalasi listrik, tirai atau layar, alat  litter, instalansi pemanas, pelindung indukan atau chick guard dan peralatan lain misalnya bak celup kaki. Selain itu gudang juga diperlukan untuk mendukung dalam usaha ayam broiler, gudang merupakan tempat penyimpanan, ada dua jenis gudang yaitu gudang pakan dan gudang peralatan (Santoso dan Sudaryani, 2011).

Tipe Kandang
Tipe perkandangan biasa menggunakan kandang yang terbuka (open house) dan kandang tertutup (close house). Kandang yang terbuka menyatu langsung dengan alam jadi tidak dapat mengatur stabilitas lingkungan kandang sedangkan kandang tertutup dapat mengatur stabilitas dalam kandang seperti menyesuaikan kelembaban dan suhu dalam kandang. Close House  merupakan tipe kandang yang seluruh ventilasinya tertutup dan kebutuhan udara, kelembaban maupun suhu diatur didalamnya serta memiliki kondisi yang berbeda dengan keadaan diluar kandang (Dewanti et al., 2014).
Pembangunan Kandang
Pembangunan perkandangan diperlukan suatu perencanaan yang baik. Perencanaan tersebut perlu mempertimbangkan syarat bangunan perkandangan  meliputi : a. Dinding kandang dapat terbuat dari papan, bilah bambu, ram kawat. Dinding kandang tidak boleh terlalu rapat, hal ini dimaksudkan untuk keleluasaan sirkulasi udara kandang, dan tidak boleh terlalu jarang sehingga predator tidak dapat masuk kedalam kandang. b. Arah kandang sebaiknya membujur timur - barat. Hal ini dimaksudkan agar ayam tidak terlalu kepanasan, tetapi pagi hari masih dapat memperoleh sinar mata hari, c. Tinggi tiang tengah keatap minimal 6-7 meter dan tiang tepi minimal 2,5 - 3 meter, hal ini berhubungan dengan sirkulasi udara dalam kandang, lebar kandang maksimal 6 - 8 m. d. Atap kandang dirancang sesuai dengan fungsinya yaitu melindungi bangunan beserta isinya dari hujan, panas matahari atau angin. e. Lantai kandang sebaiknya disemen kasar sehingga mudah dibersihkan dan akan mengurangi dari bahaya penyakit coccidiosis (Murni, 2009). Bahan dasar kandang terbuat dari kayu jati, mauni dan gelugur sedangkan lantai dan dinding terbuat dari bata dan kawat. Atap terbuat dari asbes yang sangat cocok untuk segala jenis ternak (Dahlan, 2011). Bangunan kandang akan lebih baik apabila dilengkapi dengan perlengkapan kandang seperti tempat pakan dan tempat minum, alat pemanas, tirai kandang, litter dan pagar pembatas (Murni, 2009). Perlengkapan kandang harus memadai baik kuantitas maupun kualitasnya. Kandang dengan tipe litter pengelolaannya lebih mudah dan praktis, hemat tenaga dan waktu, lantai kandang relatif tahan lama, lantai tidak mengakibatkan telapak kaki ayam terluka, dan mengeras serta litter merupakan media yang baik untuk mencakar-cakar debu atau mandi debu yang memberikan kenyamanan bagi ayam (Suprijatna, 2008).

MATERI DAN METODE
Materi
Materi yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan ini adalah Ayam Broiler (Parent Stock) di Unit Poultry Breeding PT. Patriot Intan Abadi Bogor, Jawa Barat dengan mengamati manajemen perkandangan yang diterapkan pada ayam broiler.

Metode                      
          Metode yang digunakan dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini adalah dengan ikut berpartisipasi aktif dan mengamati secara langsung kegiatan-kegiatan manajemen pemeliharaan yang diterapkan oleh PT. Patriot Intan Abadi Bogor, Jawa Barat. Melakukan observasi dengan mewawancarai para karyawan  maupun staf berdasarkan kuisioner yang sudah disiapkan sebelumnya. Mencari data - data yang mendukung seputar manajemen pemeliharaan dan seputar perusahaan. Menganalisis data yang sudah didapat dengan membandingkannya dengan pustaka-putaka yang akhirnya menyusun laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL).

DAFTAR PUSTAKA
Dewanti A., C., P., E., Santosadan K., Nova. 2014. Pengaruh berbagai jenis bahan litter terhadap respon fisiologis broiler fase finisher di closed house. JurnI lm Pet Terpadu. 3 (2).
Dahlan, M., dan N. Hudi. 2011. Studi Manajemen Perkandangan Ayam Broiler di Dusun Wangket Desa Kaliwates Kecamatan Kembangbahu Kabupaten Lamongan. Fakutas Peternakan, Universitas Islam Lamongan. Lamongan. 2 (1) : 24 – 29.
Fadilah, R. 2013. Super Lengkap Beternak Ayam Broiler. Agromedia Pustaka,      Jakarta.
Murni, M. C. 2009. Mengelola Kandang dan Peralatan Ayam Pedaging. Departemen Peternakan, Cianjur.
Nuroso. 2012. Pembesaran Ayam Kampung Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.
Malik, A., 2001. Buku Ajar Manajemen Ternak Unggas. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.
Pratama, J. A. 2008. Nilai Energi Metabolis Ransum Ayam Broiler Periode Finisher  yang Disuplementasi dengan DL-Metionin. Program Studi Ilmu  Nutrisi Dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. (Skripsi).

Rahmadani, V. 2009. Pengaruh Ketinggian Lokasi Kandang Energi Metabolis Broiler Penderita dan Kandungan Ransum terhadap Organ Fisiologis Ayam Sindroma Slow Growth  Fakultas Peternakan Universitas Andalas. (Skripsi).
Santoso, H dan T. Sudaryani. 2011. Pembesaran Ayam Pedaging Hari per Hari di Kandang Panggung Terbuka. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sholikin, H. 2011. Manajemen Pemeliharaan Ayam Broiler di Peternakan UD Hadi PS Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo. Fakultas Peternakan, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. (Tugas Akhir).
Suprijatna, E., Umiyati., A. dan Sudjana, R. K. 2008. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Zainuddin D. 2014. Strategi pemanfaatan pakan sumberdaya lokal dan perbaikan manajemen ayam lokal. Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal.

TUGAS MANAJEMEN PEMBIBITAN

Ada tiga komponen teknologi utama dalam SIPT yaitu (a).Teknologi budidaya ternak, (b) teknologi budidaya padi, dan (c) teknologi pengolahan jerami dan kompos. Agar ketiga komponen teknologi tersebut dapat diintegrasikan secara sinergis, maka pengembangan SIPT ini dilaksanakan dengan pendekatan kelembagaan. Yang dimaksud dengan pendekatan kelembagaan disini adalah dimana kepemilikan lahan sawah dan ternak secara individu tetap ada, namun kegiatan individu peternak merupakan satu kesatuan dari kegiatan kelompok, seperti pengumpulan jerami, pengadaan sarana produksi dan lain sebagainya. Sedangkan pokok tujuan dari sistem SIPT ini adalah bagaimana petani mengoptimalkan usahanya untuk menghasilkan kompos yang mampu meningkatkan efesiensi usaha taninya.
Sistem Integrasi Padi Ternak yang telah dikembangkan hingga saat ini terbentur beberapa masalah antara lain: Masih rendahnya peternak sapi di sentra produksi dalam pemanfaatan teknologi pengolahan limbah jerami dan kotoran ternak dalam rangka efisiensi. Serta masih banyak keterbatasan-keterbatasan seperti pelayanan IB(Inseminasi Buatan), kapasitas kandang sapi, dan tempat fermentasi jerami yang masih sangat sederhana. Rendahnya kegiatan kelompok ternak, sehingga peternak dalam mengusahakan sapi khususnya ternak sapi penggemukan masih bersifat individu Program dilaksanakan tidak fokus pada propinsi Pusat produsen, tetapi menyebar bahkan didaerah yang tidak dapat membantu suplai ternak sapi potong khusus ke DKI dan Jawa Barat. 2) Program SIPT bersifat umum artinya tidak membedakan lokasi spesifik. 3) Sasaran program adalah petani atau peternak rakyat atau petani tradisional. 4) Penerapan Program SIPT tidak metodologis, tidak jelas mengapa program diseluruh propinsi, mengapa lokasi disana, dan tidak ada 10 perkembangan yang jelas. Dibandingkan dengan kebutuhan tambahan ternak sapi sebanyak 400.000 ekor sampai 1 juta ekor sapi pertahun, maka apa yang dapat disumbangkan pada program ini masih sangat jauh harapan yang diinginkan. Seperti sudah diketahui bahwa kegiatan SIPT dalam usaha pengembangkan ternak sapi saling keterpaduan dengan tanaman padi, dalam konsep tersebut nampaknya sudah mengedepankan kesimbangan pemanfaatan limbah dari masing-masing komoditi, agar lebih termanfaat secara optimal. Tetapi kenyataan di lapang belum sepenuhnya lancar, terutama dalam proses pengolahan jerami sebagai pakan ternak utama.
Hal ini disebabkan oleh keadaan cuaca, seperti pertumbuhan ternak sapi pada musim penghujan (saat itu jumlah pakan cukup) juga belum maksimal pemanfaatannya. Artinya walaupun limbah pertanian pada musim panen 3 cukup banyak, tetapi upaya penyimpanan limbah pertanian belum melembaga. Sehingga daya tahan tubuh ternak tidak mampu mengimbangi kelangkaan pakan pada musim kemarau yang cukup panjang. Pada hal pakan hijauan merupakan pakan utama ternak ruminansia.